Asal Muasal

Pernah merasa, “ih kopinya ga enak!” atau “GILA, kopinya enak nya belebih?!” tapi tidak pernah bisa mendeskripsikan apa yang anda rasakan?

Anda tidak sendirian. Bahkan ada banyak sekali orang yang merasa seperti itu. Well, sebenernya lebih banyak lagi orang yang ga peduli, yang penting bisa dilihat sama orang sekitar memakai gelas yang trendy. Tapi itu untuk diskusi lain.

Setahun yang lalu, saya merasa yang sama. Saya dulu hanya suka minum ‘latte’, kopi espresso pakai susu berbuih. Tidak pernah bisa membedakan antara ‘latte’ atau ‘cappucino’ selain dari coklat yang ditabur di atas buih susu itu kalau anda meminumnya di Australia. Tidak pernah terpikir untuk meminum espresso atau bahkan kopi tubruk.

Saya tau jika kopi ‘latte’ ini tidak enak, saya tambahkan gula (kalau parah, saya tambah dua sachet). Kalau saya rasa enak, langsung saya teguk saja terasa enak, pas manisnya dan tidak terlalu panas. Kalau masuk *bucks, saya lebih baik memesan teh.

Selama hampir setahun terakhir, saya mencoba mencari tau apa yang sebenarnya saya cari dari kopi. Dan saya menemukan suatu ‘dunia’ yang saya tidak pernah bayangkan ada. Layaknya anak kecil mencari petualangan di ‘negri antah berantah’ atau seperti Wendy dan adik2nya menemukan ‘Neverland’ bahkan seperti Alice dalam ‘Wonderland’, saya terkesima / bingung / senang / takut / sedih / tersesat / takjub di dalamnya.

Dan di sini lah saya menemukan suatu hasrat / passion yang saya tidak pernah bayangkan ada.

Semua beranjak dari “Apa sih yang saya rasakan sebagai kopi enak?”.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s