Isu dari Hulu ke Hilir

Saya memulai post ini sebagai reply dari komen Pak Alexander Simaremare. Namun setelah sekian panjang, saya pikir mendingan ditayangkan sebagai post sendiri. Jadi redaksi di post ini perlu dilihat dengan konteks dialog kami. Pak Alex, berikut adalah respons saya.

Memang perlu solusi yang praktis (baca: UUD – Ujung”nya Duit), namanya juga bisnis. Selain itu, kesadaran ini harus bisa menyeluruh, dari hulu sampai hilir. Karena orang yang minum kopi sekarang di daerah Jakarta atau Bandung, termasuk saya beberapa tahun yang lalu, jarang sekali akan menyadari bahwa kopi adalah buah.

Yang perlu dicoba adalah trading fairly. Saya tidak memakai F-word di sini karena alasan yang Pak Alex sebutkan dan beberapa alasan lain. Untuk trading secara fair menurut saya, harus bisa dicapai tanpa adanya sertifikat dan segala persyaratan untuk mencapai sertifikat tersebut. Terutama untuk petani dengan kaliber yang bapak sebutkan barusan.

Pak Alex, resource yang saya punya berupa buku tebal hard copy. Sedikit susah untuk men-share dari dunia maya. Mudah2an kita bisa bertemu suatu waktu untuk sharing buku dan diskusi lebih lanjut.

Namun untuk gampangnya, prinsip dasar untuk memperbaiki kualitas menurut saya relatif gampang namun akan susah untuk dipraktekan di lapangan:

  1. Bibit yang bagus. Ateng setau saya banyak diperdagangkan secara internasional.
  2. Ambil hanya buah yang merah saat panen dan disortir pasca panen. Menurut saya ini adalah challenge pertama dari sisi hulu.
  3. Pengeringan biji yang memadai sampai kadar kelembaban 13-15%. Challenge kedua yang akan sangat susah mengingat infrastruktur industri yang ada dan seringnya hasil panen berpindah tangan.
  4. Bayar petani sesuai dengan kualitas panen. Ini lah yang paling susah diimplementasikan. Selain karena kebanyakan orang ingin dapat profit tinggi, kualitas sering didefinisikan secara subjektif. Perlu ada long term relationship antara pedagang dan pembeli. Ini banyak dilakukan, termasuk di Indonesia, namun harus dilihat dengan relativitas pasar yang sangat sangat besar.

Saya yakin ada lebih banyak challenge yang saya tidak bisa mengerti saat ini. Namun jika 3 poin pertama saja bisa mulai dicoba sebagai SOP, setidaknya ini bisa menjadi trigger perbaikan kualitas dari sisi hulu. Karena ini adalah beberapa poin yang bisa dikontrol secara proses. Cuman bisa dilihat betapa besar effort yang harus dilakukan dari sisi petani hanya dengan 3 poin tersebut.

  1. Bibit yang bagus sering tidak tahan hama dan butuh ketinggian tinggi.
  2. Dalam satu pohon saja kadang matangnya tidak bersamaan. Jadi kadang ada buah yang hijau, kuning, dan merah dalam satu pohon tergantung pada sinar matahari yang didapat, kadar hujan dan lain lain.
  3. Bisa dideduksi dari atas, perbaikan infrastruktur industri kopi secara saat ini butuh investasi yang sangat tinggi. Siapa yang mau bayar? Kita tidak bisa selalu menyalahkan atau mengandalkan pemerintah. Karena mereka pun tidak tau bagaimana memulainya.

Paradoks dari semua isu ini adalah semua panen kopi akan dibeli tanpa melihat kualitas. Mau itu panen bagus atau jelek, pasti akan laku karena konsumsi kopi yang begitu tinggi. Ngapain ribet? Toh semua bakal dibeli anyway.

Itulah mengapa poin terakhir di atas justru semakin krusial untuk memberikan insentif kepada para petani. Seperti Pak Alex bilang, kebanyakan mereka memikirkan bagaimana mereka bisa makan dan membayar utang.

Namun bila ini dilakukan, apakah anda akan siap untuk kenaikan harga secangkir kopi?

Saya sangat berharap bisa ada yang  komen atau menyanggah terhadap pemikiran saya ini. Karena seperti saya bilang sebelumnya, tidak ada guna teori tanpa terlihat dampak implementasinya.

Advertisements

9 thoughts on “Isu dari Hulu ke Hilir

  1. Kalau menilik bule2, biasanya mereka invest di petani seperti bangun sekolah dll, sehingga ada motivasi utk memperbaiki kualitas kopi dsb. apakah di sini bule2 pernah invest seperti itu ya?

    • Rico. Apa kabar? Ikutan ngumpul2 besok? Adi baru pulang dari Sumatra tuh, bawa kopi.

      Gue tau di Bali, Sumatra sama Sulawesi ada beberapa yang begitu. Cuman kalo dipikir”, apakah cara itu efektif dan efisien?

      Gue bukannya ngomong jangan. Program seperti itu sangat bagus. I’m just saying, tujuan yang ingin dicapai apa? Challenges yang ingin dilewati apa? Masalah nya saat ini adalah, tidak ada formulasi masalah dan strategi untuk overcome challenges itu. Is there a problem at all?

      Coba baca Sumatra trip notes dari Agen Mercanta di Melbourne,
      http://www.melbournecoffeemerchants.com.au/blog.asp?blogID=1535

  2. Mas Arif, saya setuju meningkatkan mutu produk dengan fair trading dan untuk itu maka poin 4 mutlak harus dijalankan. Sudah pernah ada eksportir sayuran yang melaksanakannya di negara kita ini, saya lupa namanya, dan dia cukup sukses dalam meningkatkan kualitas produk karena sekalian meningkatkan kualitas hidup petaninya. Ngomong2 sekarang lagi dimana, luar atau dalam ?
    Salam hangat penikmat kopi.

  3. Salam secankir kopi,
    Saya tergelitik dengan tulisan saudara. Memang banyak hambatan dalam meningkatkan kualitas produksi kopi. Namun item nomor 4 sebenarnya tidak mustahil dilakukan. Di daerah kami awalnya panen memang asalan (semua buah pukul rata yang penting sudah keras), namun sekarang kami telah panen dengan prosedur panen buah matang….itu diikuti oleh teman-teman sejawat sesama petani kopi di Gunuang Talang. Beda harga Rp.1000,- membuat kami termotifasi untuk memanen hanya buah yang matang…apalagi kami sekarang tahu bahwa rasa kopi ditentukan oleh waktu,cara dan proses panen yang tepat. Jadi kami harapkan “jangan menyerah untuk menerapkan 4 pemikiran saudara tadi secara menyeluruh dilapangan, karena didaerah kami 4 pemikiran tersebut bisa diterapkan.
    Salam.

  4. Salam kenal mas Arief Said,
    perkenalkan saya Adnan, sedang belajar kopi tahap awam. Saya baca beberapa tulisan mas Arief dan isinya menarik mengenai perkopian, semoga dapat terus berbagi dengan kita-kita. Sementara ini saya berdomisili di German. Beberapa waktu lalu sempat bertemu para pemain kopi di German dan Belanda dalam suatu kegiatan di Hamburg. Di acara tersebut, kopi dari Indonesia cukup dapat atensi, terutama kopi Arabika dari Aceh, Java dan Sulawesi. Cukup sejajar dengan kopi Brazil dan Colombia. Tetapi memang kopi Indonesia biasanya diblending dengan kopi lain seperti Brazil. Saya baru tahu kopi2 enak tersebut di luar. Ini juga yang jadi pemikiran, terdapat perbedaan persepsi kopi “enak” antara selera Indonesia dengan eropa. Ini juga yang menjadi salah satu penghambat industri kopi kita di eropa, walau kita mengekspor lumayan besar ke german tetapi sebagian besar jenis Robusta, yang mungkin hanya digunakan kurang dari 5% sebagai blending, sedangkan yang bernilai ekonomi tinggi adalah jenis arabika.
    Saya setuju dengan pandangan mas Arief bahwa memang ada banyak tantangan untuk pengembangan industri kopi kita, mulai dari awal di tingkat petani. harga yang diberikan ke petani sebenarnya rendah dibandingkan harga “cup” sekitar 2,8 euro. untuk itu penting untuk penerapan konsep fair trade (bukan organisasi ya..) nah para pemain kopi bisa memberikan insentif melalui harga jual atau fasilitas2 tertentu kepada petani binaannya. Harga diberikan lebih mahal 1rb atau 2rb seharusnya tidak akan membuat harga kopi di tahap akhir meningkat, karena dari 1 kg biji kopi hitungan kasarnya bisa menjadi 100 cup jika per cup menggunakan 8-10 gram bubuk kopi (cuma nambah beberapa puluh perak saja ke struktur biaya akhir per cupnya).
    oya sekedar masukan, mengenai pengeringan biji mungkin maksudnya bukan kelembaban, tetapi kadar air (sebaiknya kadar air kisaran 8-12%, diatas itu rawan terserang jamur). juga mengenai bibit yang bagus, mungkin maksudnya bibit arabika, karena arabika memang ditanam di atas ketinggian 1000 m dpl, sedangkan robusta dibawah itu.

  5. Sebenernya utk meningkatkan kualitas kopi yg kita konsumsi, sekaligus meningkatkan kesejahteraan pelaku industri hilir, harus & hanya bisa dilakukan dg meninggalkan sistem bisnis & pola pikir lama..
    Bila sedikit saja tersirat pikiran, “what’s in it for me?” ato “what would I get if I did that?”, mustahil rasanya mau berubah..

    Penetapan standar kualitas panen harus diiringi dg edukasi petani & pemutakhiran alat2 produksi, ane rasa utk alat2 produksi, banyak industri manufaktur yg siap memproduksinya, toh bahkan mesin sangrai buatan lokal bikinan om John pun cukup bersaing..

    Regulasi tranparansi asal kopi, ketimbang meributkan definisi & tolok ukur nilai kopi spesialti, urgensi utk mengatur transparansi asal kopi (berikut jenis varietas, proses paska panen, profil & tgl penyangraian) tanpa harus terkungkung nilai 85 ato 95..

    Biarkan daya beli konsumen yg mensegmentasi kualitas kopi macam apa yg akan mereka konsumsi..
    Setidaknya, mereka tau kopi dari kebun siapa yg mereka minum, biar mereka tau uang yg dibayarkan itu nantinya utk bayar utangnya petani mana..

    Malu sama vietnam, yg kualitas kopinya “gitu-gitu aja”, tapi bangga menjajakan kopi lokalnya di pinggir jalan dlm bentuk roasted whole beans tanpa ditutupi false advertising “dibuat dari biji kopi pilihan”..

    Merubah pola industri hulu terlihat susah krn mayoritas kopi-kopi kualitas rendah terjamin penjualannya krn kontrak eksklusif pemain besar yg jengah dg transparansi, karena demand masyarakat akan kopi berkualitas jg rendah..

    Tapi demand mudah dimanipulasi, banjiri pasar-pasar kopi lokal dg kopi-kopi transparan dlm bentuk roasted whole bean dlm berbagai kualitas, kalo perlu jalin kontrak dg minimarket waralaba, sandingkan dg alat giling tangan produksi lokal, maka pasar akan terbentuk..

    Sebelum budaya konsumsi kopi instan merajalela, petani kita giat memproduksi kopi berkualitas, krn demandnya yg tinggi..
    Ini menandakan bahwa pasar bisa diciptakan, dan menciptakan pasar yg berkesinambungan dg peningkatan kesejahteraan petani kopi tidak bisa dilakukan dg sistem bisnis & pola pikir yg sudah ada, krn kita sudah tau apa hasilnya dari “what’s in it for me?” itu..

    Hal itu jg tdk bisa dilakukan bila standar dan parameter yg ada, hanya mengamini standar & parameter yg disusun di Amerika, heck, even Europeans got their own brewing chart due to their differences in taste preferences, so why don’t we?
    Memetakan selera konsumsi kopi masyarakat lokal utk membentuk brewing chart yg sesuai dg kondisi selera kita sendiri..

    Isu-isu di industri hulu dunia kopi yg ane baca ini msh ada sekarang di 2016 dan akan tetap ada selama “what’s in it for me?” tetap bercokol di benak para pegiatnya..

    Salam olahraga..

  6. jika mengembangkan usaha dan ingin mendapatkan added value dibidang perkopian mulai dari hulu ke hilir,bagaimana kalkulasi bisnis yang optimal hasilnya,misal kebun panen dan ikuti S O P panen yg benar,dikaitkan modal berputar,(1) berapa persen dari hasil panen yg dijual sbg biji saja,(2)berapa persen yang dijual sbg kopi proses (giling),(3)berapa persen yang dijual sdh kemasan dan terakhir (4) berapa persen yang dijual sbg kopi konsumsi langsung (cafe,resto dll)
    Adakah empiris sensitivitas ttg 4 hal tadi? mengingat income no 1 dan 2 tdk bermargin besar namun volume jual tinggi sementara no 3 dan 4 income bermargin tinggi namun volume jual rendah (sdh banyak pesaing)
    mohon pencerahannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s