Tom dan Shanny

Dalam pengalaman kita sebagai makhluk sosial, tanpa disadari kita mengasah suatu skill untuk melihat karakter orang. Mau tidak mau skill ini berkembang dalam diri kita. Ada sisi baik dan buruk dari skill yang kita punya ini. Di satu sisi kita bisa melihat dari awal apakah kita cocok dengan orang yang baru kita temui. Namun di sisi lain kita bisa terlihat menghakimi tanpa mengenal seseorang lebih lanjut, bila kita melihat kita kurang cocok dengan orang baru.

Seperti dengan kebanyakan hal dalam hidup ini, keseimbangan harus dijaga. Jika skill tersebut itu terasah tanpa kita sadari, kita harus mengasah suatu kemampuan secara penuh kesadaran untuk menjaga keseimbangan dari skill tadi. Kadang orang yang terlihat menghakimi tersebut atau orang yang terlalu percaya kepada orang, belum sepenuhnya menyeimbangi kemampuan dirinya. Namun ini bukan inti pembicaraan saya.

Saya ingin bercerita mengenai Tom dan Shanny. Di bulan September lalu, saya memasuki kafe bernama Elevenses. Ini lah pertemuan saya yang pertama dengan kedua barista bernama Tom dan Shanny. Di saat itu saya masih belum mengenal mereka atau mengetahui bahwa ternyata mereka lah yang mempunyai kafe itu. Namun yang saya tau di pertemuan itu adalah saya merasakan kecocokan. Saya merasakan passion mereka terhadap kopi. Saya merasakan passion mereka untuk belajar lebih mengenai kopi.

Begitu anda masuk ke kafe ini, anda tidak bisa menahan senyuman anda. Ini lah atmosfir yang tercipta dari pasangan pecinta anjing ini.

Saya tidak bisa menahan keseimbangan kemampuan saya untuk melihat pasangan ini sebagai teman dan sahabat. Apalagi setelah beberapa pertemuan dengan mereka, saya mengetahui bahwa Shanny dulunya tinggal di rumah sebelah saya bersama keluarganya. Dan sampai sekarang saya masih suka bertemu dengan ayahnya, Victor, yang suka mampir ke rumah sebelah jika dia datang dari Singapura. Bahkan Victor suka menawarkan saya untuk mengantar dengan mobilnya jika dia melihat saya atau adik saya sedang jalan ke stasiun kereta di pagi hari.

Lucu jika dipikir kita tidak bisa mengetahui siapa yang akan kita temui dan siapa yang akan jadi kawan kita. Namun satu hal yang saya tau, saya merasa diberkati untuk bisa bertemu dengan mereka dan bangga untuk bisa menyebut mereka teman saya.

Pertemuan dengan Ben Whitaker

Cupping adalah salah satu cara untuk bertemu dengan orang” dalam industri kopi. Kebanyakan orang yang saya kenal di industri ini, saya kenal melalui cupping.

Ben Whitaker adalah salah satunya. Ben mempunyai suatu kafe mungil di daerah South Yarra, bernama Final Step.

Setelah cupping di Market Lane, kita mulai berbicara. Semua berawal dengan “Nama saya Ben. Nama saya Arief. Apa kamu kerja di industri kopi?”. Saya selalu susah untuk menjawab pertanyaan seperti ini. Saya biasanya hanya menjawab dengan “tidak, namun saya suka sekali dengan kopi”. Saat saya bertemu Ben, kondisi saya sudah sedikit berubah. Lalu saya jawab dengan “Tidak namun saya sedang berpikiran untuk masuk ke dalam industri ini”.

Lalu kita mulai berbicara sambil minum kopi dan makan roti.

Yang betul” menarik perhatian saya dari Ben adalah karakternya yang terlihat sangat genuine dan ramah. Ditambah lagi begitu gampangnya saya berbicara dengannya. Kita mulai berbicara segala macam topik, semua dengan dasar topik kopi tentunya, selama kurang lebih sejam. Di antaranya mengenai industri kopi di Indonesia. Dia mengungkapkan bahwa dia ingin sekali bisa mengerti apa yang dihadapi oleh petani di Indonesia.

Yang orang ketahui di sini hanyalah kopi Indonesia berpindah tangan terlalu sering sehingga kemungkinan kualitas kopi tersebut menurun jauh lebih besar. Dia juga mengungkapkan bahwa dia sudah berbicara, masih tahap ide, dengan beberapa orang untuk mencoba melakukan projek kecil”an yang mungkin bisa membantu kendala” yang dihadapi.

Saya bicara kepada Ben, apapun yang dia butuhkan, saya dukung sepenuh hati dan tenaga. Kita lihat saja kelanjutan dialog ini.

Di akhir, Ben mengajak saya untuk datang ke kafe nya yang merayakan perayaan dua tahun berdirinya kafe tersebut.

Di bawah ini foto dari kafe Final Step dan foto dari malam itu. Ben adalah orang yang megang gitar.

Foto di atas diambil dari sudut tempat drum di foto satunya. Bisa dilihat  betapa mungil kafe ini.

Mengapa saya suka kafe ini? Karena namanya Final Step. Setelah sekian panjang proses yang dilalui oleh sebiji kopi, semua itu hanya untuk melalui proses penyeduhan dari kafe2. Inilah “Final Step” dari proses yang begitu panjang. Dan melihat karakter Ben, dia hanya ingin memegang janjinya.

Bertemu Lora – 1

Dua minggu lalu, saya masuk ke salah satu kedai cupcake untuk membeli kopi. Saya jarang ke daerah pertokoan ini karena tidak ada kopi yang saya suka. Namun pada saat itu, ada sekitar 6 orang dari kantor yang turun untuk membeli kopi. Mereka suka sekali membeli kopi dari kafe sebelah kedai cupcake ini. Berhubung saya pernah mencoba kafe mereka dan tidak suka, saya masuk ke kedai ini karena ada tanda di depannya “We Love Coffee” di sebelah buku Scott Rao dan Tim Wendelboe.

Saya masuk lah ke kedai ini dengan harapan rendah. Karena sekian banyak kedai kopi yang hanya mengikuti trend dan tidak peduli dengan janji Specialty. Namun di belakang bar yang menyandang Synesso tersebut dipajang bungkus dari 5 Senses.

Menarik …

Lalu saya coba kopi dengan susu seperti umumnya saya masuk ke kedai kopi baru. Betapa pun mahal kopi dan mesin yang dipakai, pada akhirnya sang barista lah yang memberikan minuman kepada pembeli. Saya tau betapa susahnya seorang barista untuk membuat kopi enak secara konsisten. Setidaknya dengan kopi susu, saya tidak akan terlalu kecewa jika kopi itu tidak enak.

Mulai pembicaran dengan barista di belakang bar ini, saya melihat antusiasme nya dalam membuat kopi. Rutinitas yang dipakainya. Walau sudah jam 3 sore, dia masih tersenyum dan menanyakan cerita hari saya.

Bagaimana pun rasa kopi yang ditawarkannya, ini lah yang saya cari dari seorang barista. Hanya kepedulian yang saya minta. Terhadap produk yang ditawarkan dan terhadap pembeli.

Seperti yang saya duga, kopi yang ditawarkannya memang enak.

Di sini lah saya mulai berteman dengan Lora, sang Barista.