Akhirnya..

Beberapa kali saya ketemu orang, selalu ditanya “koq blog nya gak di update lagi?”

Apalagi setelah post saya terakhir. Sedikit malu sebetulnya. Embarrassed smile

Untuk yang belum tau, saya akhir September kemarin menikah. Alhamdulillah. Minta doanya yah semoga kami bisa membina rumah tangga yang sakinah dan penuh kasih

Untuk yang lebih belum tau lagi, saya sudah kembali ke tanah air. Selain untuk alasan nikah di atas, tapi untuk lebih melihat situasi industri kopi di Indonesia.

Saya suka berpendapat susah untuk bisa melihat apalagi mendalami sesuatu dari luar. Jadi itu lah yang saya lakukan sekarang. Sekalian nyemplung ke industri kopi di tanah air.

Photo 27-05-12 12 53 38 PM

Alhamdulillah saya bisa berkesempatan untuk bertemu beberapa nama di dunia kopi Indonesia. Saya juga senang bisa akhirnya datang ke kebun kopi di musim panen, ikut melihat pemetikan dan proses pasca panen yang dilakukan di satu kelompok tani.

Photo 24-05-12 1 28 38 PM

Mudah2an dengan ini, saya jadi semangat untuk kembali menulis di blog ini.

 

ps. jika ada yang minat bertemu, saya kebetulan diajak kawan2 dari akademi berbagi bekasi untuk “berbagi” mengenai kopi. Bisa dilihat info lengkapnya di  http://akberbks10.eventbrite.com/

Advertisements

Setelah sekian lama

Saya kemarin ini membaca buku. Di situ, saya membaca betapa susahnya seseorang untuk memulai menulis di buku baru. Karena di dalam buku baru yang kosong itu, kita melihat harapan akan pemikiran yang ingin kita paparkan. Semakin lama kita tunda untuk menulis di buku ini, semakin susah kita untuk memulai. Lebih karena ketakutan. Takut yang kita tulis tidak sesuai dengan harapan kita yang tinggi terhadap diri kita. Akhirnya lembaran buku kosong itu tidak tercoret selembar pun. Mimpi yang ingin kita tulis, hanya akan menjadi mimpi.

Semua karena ketakutan dari diri kita sendiri.

Lalu saya teringat blog ini. Kasusnya pun tidak berbeda. Saya punya mimpi dan harapan kenapa saya memulai ini. Namun terbengkalai karena ketakutan. Semakin saya mendalami ilmu di bidang kopi ini, semakin jelas banyak sekali yang saya tidak ketahui.

Namun apa yang telah saya pelajari, saya yakin bisa bermanfaat untuk yang lain. Dan itulah tujuan saya memulai blog ini. Harapan saya adalah blog ini justru membuat diskusi antara kita, pembaca dan penulis.

Jadi kalau kata buku yang saya baca tersebut, supaya buku baru itu terisi oleh pemikiran kita, coret’ halaman pertama nya. Penuh dengan coretan tak bermakna. Jadi apa pun yang kita tulis berikutnya akan punya makna yang lebih.

Ini lah halaman pertama saya setelah sekian lama.

De Gustibus non est Disputandum

Baru saja baca pepatah latin yang tidak tau dari mana asalnya.

De Gustibus non est Disputandum

Artinya: “Tidak ada perdebatan mengenai rasa (selera -red.)”

Saya suka sekali dengan pepatah ini dan bertepatan dengan pemikiran saya akhir” ini. Sering sekali, terutama di bidang makan dan minum, kita bilang yang enak itu enak, seolah rasa itu absolut.

Masing” kita mempunyai selera rasa. Saya suka kopi, bukan berarti semua orang suka kopi. Saya tidak suka Starbucks, bukan berarti saya harus bilang Starbucks tidak enak secara absolut. Buktinya, sukses saentero jagad.

Saya sering ditanya, kopi mana yang paling enak di daerah ini? Atau, apa yang salah dengan kopi instan / kapal api / nespresso etc. ? Jawaban yang selalu saya coba kemukakan, “Tergantung selera lo, kalau selera gue seperti ini”. Jika yang bertanya suka dengan profil rasa yang menurut saya kopi basi, siapa saya untuk bicara itu salah?

Dulu saya tidak suka kopi yang profil rasanya “cerah”, seperti asam buah. Namun sekarang saya sangat menikmati kopi macam itu dan mencari asam buah tersebut. Bila selera itu berubah, absolut itu pun tidak akan pernah tercapai.

Namun di lain sisi, apakah itu berarti kita harus menerima status quo? “Selera lo itu selera lo, selera gue pasti enak!” Garis mana yang perlu kita ambil? Apalagi jika kita berbicara mengenai hasil panen yang tiap tahunnya ada kemungkinan berubah. Ditambah lagi dari sisi produsen (baca: Indonesia) yang bermain di pasar Internasional. Apakah kita mampu untuk selalu bicara “Kopi ini pasti enak (karena laku di Belanda 10 tahun yang lalu etc.)” jika pasar sudah mencari profil rasa yang berbeda?

Satu cerita yang saya dengar, Orang Jepang datang ke satu petani di Nicaragua. Mereka mencari kopi yang profil rasa nya seperti kopi Indonesia tanpa profil Earthy yang Mouldy. Dan petani itu menyanggupkan. Saya dengar langsung dari petani Nicaragua tersebut. Apakah kita mampu untuk terus memberikan Earthy sebagai profil unggulan, jika banyak yang melihat itu sebagai defect? Lalu bagaimana kah profil Earthy yang bukan defect?

Inti dari pemikiran saya ini adalah, sering kita dengar dan bahkan lebih buruknya menyalahkan selera orang lain atau membenarkan selera sendiri. Tentu selera itu berbeda. Namun tidak gunanya diperdebatkan. Coba kita membuka wawasan, dan mencoba melihat sudut pandang yang berbeda. Suka tidak suka, itu adalah selera yang tidak perlu diperdebatkan. Apalagi sebagai produsen, apakah anda mampu membodohkan konsumen? Apakah Indonesia mampu bersikeras produk kita yang terbaik? -Apalagi jika kita tidak pernah merasa produk saingan kita. Kembali kepada, target pasar mana yang kita incar.

“Suum Cuique”