Kesempatan untuk Kopi Indonesia

Saya ingin menekankan inti dari post saya sebelumnya. Jadi saya cantumkan paragraf tersebut di bawah ini.

Saya berharap pasar Internasional akan membeli kopi Indonesia langsung dari Indonesia. Kalimat tadi terasa aneh dan asing bukan? Namun, paling tidak masih ada 2 importir di Australia yang mengambil kopi “Specialty” Indonesia dari negara lain selain dari Indonesia. Saya bertemu satu orang yang mengambil kopi “Aceh Gayo” dari negeri Belanda. Dan yang satunya mengambil kopi Sulawesi dari Jepang. Coba bayangkan, kopi kita dijual ke Belanda dulu baru diambil ke Australia. Mengapa ini terjadi?

Saya tanyakan pada beliau yang membeli kopi Aceh dari belanda tersebut, apakah tidak lebih murah untuk mengambil kopi ini langsung dari Aceh? Beliau menjawab, Memang betul lebih murah. Namun kami tidak bisa mendapatkan jaminan mutu yang bagus dan konsisten. Kami siap membeli lebih mahal, bila kami dapatkan kualitas yang kami mau. Beberapa kali kami coba, namun kualitas kopi nya sama sekali tidak konsisten dari pengiriman satu ke yang lain.

Di lain kesempatan, saya bertemu beberapa orang asing yang memberikan investasi langsung kepada petani dan koperasi secara spesifik. Mereka membantu memetik buah, membuat ladang cacing untuk menggemburkan tanah, membelikan alat “depulper” dan lain sebagainya.

Inilah kesempatan kita sebagai bangsa untuk berkiprah membangun suatu industri di mana pasar dunia siap menerima produk kita. Bukan hanya siap menerima tapi membutuhkan. Lepaskan ego masing2. Coba kita bekerja sama membangun nama Indonesia yang disejajarkan dengan “Mutu dan Kualitas yang Konsisten”.

Di Indonesia ada beberapa inisiatif untuk memajukan industri ini, saya tau pasti. Saya ingin sekali mendengar pengalaman orang2 yang lain juga dan bagaimana kita bisa mengembangkan industri ini. Tolong saya minta pendapat dan rujukan dari anda, apakah yang sedang terjadi di Indonesia untuk memperbaiki ini?

Advertisements

Pengalaman buruk untuk kopi indonesia

Di bawah ini adalah prespektif saya terhadap pemasaran kopi Indonesia di luar negri. Saya berharap keadaan sebenarnya berbeda dengan pengalaman yang orang awam seperti saya alami di bawah ini. Mudah2an saya benar.

Saya tulis esai ini beberapa saat yang lalu. Dan saya merasa ingin berbagi saja. Mohon maaf jika ada yang merasa tersinggung, namun saya berharap ini bisa menjadi pembelajaran. Silahkan dikomentari bila ada pemikiran.

Saya suka kopi”

Ada satu cerita lagi, kalau anda masih belum bosan dengan cerita saya. Saya pernah datang di suatu acara yang diadakan untuk mencoba memasarkan kopi Indonesia kepada pemain industri kopi di Melbourne.

Pasar kopi di dunia saya lihat sedang dalam proses transisi. Saat ini, kopi dinilai darirasa bukan dari bentuk atau besarnya. Kualitas bukan kuantitas. Pergerakan di industri ini disebut ‘Specialty Coffee’. Di acara ini, hanya orang dalam industri ‘specialty coffee’yang diundang. Saya harus nulis essay dengan tema “mengapa anda perlu memberi saya konsiderasi untuk ikut serta dalam acara ini” kepada panitia untuk bisa masuk kedalam acara tersebut. Perlu saya tekankan, panitia acara adalah orang2 sebangsa Indonesia dan peserta acara adalah kenalan2 saya di industri “Specialty Coffee” daerah Melbourne.

Pergerakan ‘specialty coffee’ ini hanya bermain dengan jenis kopi Arabika. Jika anda tidak mengetahui, ada 2 jenis kopi yang paling umum ditanam oleh petani; JenisRobusta dan jenis Arabika. Robusta adalah kopi yang ‘kuat’, kandungan kafein jenis ini tinggi, namun rasanya cukup statis, pahit dan hambar. Bayangkan rasa kopi kapal api. Sedang Arabika rasanya lebih asam, kafein nya lebih rendah namun rasanya variatif berdasarkan tempat ditanamnya dan proses pengolahannya. Jika anda melihat kopi dipasarkan sebagai kopi Aceh Gayo, Sumatra Mandailing, ini hanya bisa bisa bermakna dengan kopi Arabika. Saya pernah merasakan kopi dengan aroma naturalnya seperti lemon (Rwanda) atau strawberry (Ethiopia). Bahkan salah satu penilaian dari pergerakan “specialty coffee” ini adalah kemanisan rasa dari kopi tubruk, tanpa gula.

Saya pernah menemukan suatu kopi dari Bolivia dengan rasa manis seperti karamel dan aroma seperti coklat. Dan semua ini tidak masuk dalam sistem tubuh seekor binatang.

Lalu dalam acara ini, ada satu pembicara yang didatangkan dari Indonesia. Dia salah satu petinggi dalam industri kopi di Indonesia. Dia memberikan presentasi dengan tema “Ayo beli kopi Indonesia”. Sangat disayangkan, karakter individual ini sangat bangga. Ditambah, beliau tidak dapat melihat pasar untuk produk yang dia coba tawarkan. Beliau mencoba menawarkan “Specialty Robusta”. Begitu terminologi ini terucap dari beliau, orang di belakang saya terdengar menahan tawanya. Saya berharap kosong itu karena keterbatasan bahasa Inggris beliau.

Saya sangat salut kepada panitia ini dengan inisiatifnya. Saya memberi apresiasi yang sangat tinggi untuk pembicara tersebut dengan niatnya menjual produksi kopi Indonesia yang 80% terdiri dari Robusta. Namun saya tidak bisa menahan pemikiran “Surely we can do better than that!”.

Perlu diketahui, tujuan 10 tahun ke depan saya adalah Indonesia bisa  mengadakan kompetisi kopi ‘Cup of Excellence’. Andai ‘Specialty Coffee’ itu bernilai 80% ke atas, ‘Cup of Excellence’ harus dapat mencapai nilai minimal 85%. Satu kopi dari program ini berhasil mendapatkan harga lelang $120 / kg, masih biji hijau, dari seorang petani miskin. Dalam 2 minggu, kopi itu sudah habis dikonsumsi rakyat Jepang. 1 bulan lalu, kopi dari Panama (Hacienda La Esmeralda) baru saja memecahkan rekor harga $500 / kg. Sekali lagi, biji kopi yang saya sebutkan ini tidak pernah masuk tubuh seekor binatang. Tebak, semua uang itu diambil oleh petani, tanpa perantara eksportir atau importir. Bayangkan jika Indonesia mencapai tahap apresiasi seperti itu.

Satu hal lagi yang paling saya sayangi dalam pengalaman ini adalah isi dari ‘Gift Bag’ yang dibagikan berupa sachet kopi instan produksi sang pembicara. Perlu ditekankan lagi, saya sangat bangga terhadap produk Indonesia. Namun, ‘pasar’ akan bisa terjadi bila adanya ‘supply’ yang memenuhi ‘demand’. Bila sang produsen hanya memberikan apa yang bisa dia jual tanpa melihat demand, apakah pasar itu akan terjadi?

Bila kita ingin memasarkan kepada ‘specialty coffee market’ di luar negeri, tentu kita harus memasarkan specialty coffee. Bila suatu kegiatan diadakan secara eksklusif khusus untuk pembeli kopi dan roaster “specialty” di Melbourne dan menutup orang awam sama sekali (bahkan rakyat Indonesia di Melbourne perlu menulis surat minta ijin), tentu kita bisa memberikan produk terbaik kita. Sebagai contoh, berikanlah para pengunjung sample kopi hijau nya.

Saya tau dari partner panitia acara tersebut dan roaster untuk kopi2 yang kami ‘cicipi’ malam itu  (asosiasi kopi specialty di Australia) bahwa ada pengiriman kontainer yang baru datang sore itu dan belum sempat di roast. Bila ada sekian banyak biji kopi yang menganggur, mengapa tidak dibagikan saja kepada pengunjung? Menurut saya itu lebih baik daripada sachet kopi instan yang mereka akan buang begitu mereka keluar dari acara tersebut.

Mungkin dengan diberikan sample langsung, mereka akan membeli kopi Indonesia langsung dari Indonesia. Kalimat tadi terasa aneh dan asing bukan? Namun, paling tidak masih ada 2 importir di Australia yang mengambil kopi “Specialty” Indonesia dari negara lain selain dari Indonesia. Saya bertemu satu orang yang mengambil kopi “Aceh Gayo” dari negeri Belanda. Dan yang satunya mengambil kopi Sulawesi dari Jepang. Coba bayangkan, kopi kita dijual ke Belanda dulu baru diambil ke Australia. Mengapa ini terjadi?

Saya tanyakan pada beliau yang membeli kopi Aceh dari belanda tersebut, apakah tidak lebih murah untuk mengambil kopi ini langsung dari Aceh? Beliau menjawab, Memang betul lebih murah. Namun kami tidak bisa mendapatkan jaminan mutu yang bagus dan konsisten. Kami siap membeli lebih mahal, bila kami dapatkan kualitas yang kami mau. Beberapa kali kami coba, namun kualitas kopi nya sama sekali tidak konsisten dari pengiriman satu ke yang lain.

Kita sebagai bangsa Indonesia harus bisa bersaing oleh negara lain. Bukan waktu nya lagi kita bertindak atau berlagak ‘ignorant’. Mainkan kehebatan salesmanship dan network kita untuk kemajuan bangsa. Lepaskanlah sedikit ego kita untuk kemajuan bersama. Dengarkanlah pasar Internasional.

Mungkin dengan ini kita bisa mengangkat derajat para petani kita dan orang yang kurang mampu di sekitar kita. Mungkin dengan ini kita bisa terlepas dari mentalitas ‘rakyat tertindas’. Mungkin dengan ini kita bisa bangga atas Indonesia tanpa berlaku sombong. Mungkin dengan ini kita bisa melihat problematika bangsa kita yang sebenarnya dan bukan hanya melihat telenovela cicak dan buaya. Mungkin dengan ini kita bisa memulai perubahan di daerah Lapindo sebagaimana tragedi minyak di amerika diatasi.

Maaf saya berubah topik. Intinya, Saya Suka Kopi. Dan saya berharap pasar kopi Indonesia bisa maju di taraf Internasional. Saya sungguh berharap kejadian ini hanya anomali, dan sesungguhnya marketing kopi kita lebih elegan daripada ini.

Kopi Enak

Apa sih sebenarnya kopi enak itu? Banyak opini mengenai hal ini.

Setelah beberapa bulan mendalami kopi, bertemu sekian banyak orang di industri kopi di dunia, satu hal yang bisa saya tarik kesimpulan. Dan saya yakin anda akan kecewa membacanya.

Kopi enak itu subjektif. Tergantung selera masing2 individu.

Kecewa? Sedikit anti-klimaks? Yah itu lah kesimpulan yang saya bisa ambil.

Tapi .. Ada beberapa yang garis besar yang hampir semua orang setuju, apalagi dengan adanya gerakan Specialty Coffee atau yang bisa dirujuk sebagai ‘Third Wave’(Gelombang Ketiga)..

Tapi sebelumnya, ada yang bisa coba menjelaskan yang menurut anda kopi enak itu seperti apa?

Asal Muasal

Pernah merasa, “ih kopinya ga enak!” atau “GILA, kopinya enak nya belebih?!” tapi tidak pernah bisa mendeskripsikan apa yang anda rasakan?

Anda tidak sendirian. Bahkan ada banyak sekali orang yang merasa seperti itu. Well, sebenernya lebih banyak lagi orang yang ga peduli, yang penting bisa dilihat sama orang sekitar memakai gelas yang trendy. Tapi itu untuk diskusi lain.

Setahun yang lalu, saya merasa yang sama. Saya dulu hanya suka minum ‘latte’, kopi espresso pakai susu berbuih. Tidak pernah bisa membedakan antara ‘latte’ atau ‘cappucino’ selain dari coklat yang ditabur di atas buih susu itu kalau anda meminumnya di Australia. Tidak pernah terpikir untuk meminum espresso atau bahkan kopi tubruk.

Saya tau jika kopi ‘latte’ ini tidak enak, saya tambahkan gula (kalau parah, saya tambah dua sachet). Kalau saya rasa enak, langsung saya teguk saja terasa enak, pas manisnya dan tidak terlalu panas. Kalau masuk *bucks, saya lebih baik memesan teh.

Selama hampir setahun terakhir, saya mencoba mencari tau apa yang sebenarnya saya cari dari kopi. Dan saya menemukan suatu ‘dunia’ yang saya tidak pernah bayangkan ada. Layaknya anak kecil mencari petualangan di ‘negri antah berantah’ atau seperti Wendy dan adik2nya menemukan ‘Neverland’ bahkan seperti Alice dalam ‘Wonderland’, saya terkesima / bingung / senang / takut / sedih / tersesat / takjub di dalamnya.

Dan di sini lah saya menemukan suatu hasrat / passion yang saya tidak pernah bayangkan ada.

Semua beranjak dari “Apa sih yang saya rasakan sebagai kopi enak?”.